# Mandatory Orang Tua

Ibrahim Vatih
Ibrahim Vatih
Apr 19, 2021 ยท 4 min read

Orangtua mempunyai hak veto terhadap anak-anaknya, kekuatannya absolut bukan cuma secara sosial, tapi juga secara ghaib.

Secara sosial, seseorang akan dicap negatif ketika di jidatnya ada stempel ngga taat orangtua.

Secara ghaib, dijamin oleh Al Quran dan Hadits, ridha Allah berada pada ridha orangtua, begitu juga murka Allah bergantung pada murka orangtua.

Faktanya, kondisi orangtua kita berbeda-beda, tapi mandatory-nya sama.

Orangtua yang open minded mempunyai kekuatan mandatory yang sama dengan orangtua yang very-old-school minded.

Jadi gini, defaultnya, sesuatu yang kita lakukan atau kita rencanakan dan dianggap aman atau sreg oleh orangtua, pasti mendapatkan ridha dari mereka.

Sebaliknya, kalau orangtua ngga sreg, pasti ngga akan dapat ridha, meski hal itu jelas-jelas aman. Di sinilah letak masalahnya.

Dengan penjelasan di atas, bisa dikatakan bahwa ridha dan murka Allah bergantung pada mindset orangtua. Semakin luwes orangtua, semakin besar peluang dapat ridha Allah. Semakin kaku orangtua, semakin besar peluang dapat murka Allah.

Saya berhadapan dengan banyak murid yang berulang kali bilang, "orangtua ngga mendukung", "orangtua ngga setuju", "orangtua maunya saya begini", dan sejenisnya.

I mean, ketika orangtua udah berfatwa, maka fatwa itu menjadi absolut seperti yang saya katakan di atas. Dan saya mengimani itu.

Jangan pernah menentang orangtua apapun alasannya. Nasihat ini yang juga berulang kali saya sampaikan pada banyak murid.

Fatwa mereka adalah hukum untuk kita. Fatwa mereka adalah halal dan haramnya perbuatan kita.

Cuma orang yang akalnya kurang jalan sih kalau terang-terangan mendatangi murka Allah (dengan ngga taat pada fatwa orangtua).

Saya menyadari mandatory orangtua ini sebagai bagian dari polemik dalam hidup.

Harus ada cara supaya kita bisa berdamai dengan mandatory ini. Dan ternyata solusinya simple.

Supaya ngga keluar fatwa, ya ngga usah cerita.

Iya, sesimple itu.

Ngga semua yang kita rencanakan harus kita ceritakan. Termasuk ke orangtua.

Kamu paling ngerti dengan kondisi orangtua, bagaimana sikap dan tanggapan mereka terhadap setiap usulan dan ide yang kamu rencanakan.

Tentu, akan lebih baik ketika ide dan rencana itu mendapatkan ridha dari orangtua. Dalam banyak kasus hasilnya akan melejit dengan cepat. Dan ini adalah opsi terbaik.

Idealnya adalah berencana, cerita, dan dapatkan restu.

Tapi dalam kondisi yang ngga ideal ya ngga usah cerita.

Kita ngga ingin setelah cerita yang muncul adalah murka.

Ngga cerita itu bukan berarti ngga taat orangtua.


Contoh, kita mau fokus bisnis tapi orangtua menghendaki kuliah.

Menentang orangtua untuk ngga kuliah itu salah, karena kuliah adalah fatwa, sifatnya mandatory, mempunyai kekuatan yang absolut.

Ngga ada pilihan lain selain kuliah. Ya kuliah aja.

Tapi sambil kuliah, sambil menjalankan bisnis juga.

Nah, bagian menjalankan bisnis ini ngga perlu cerita, karena kalau cerita akan berisiko dapat fatwa.

Tapi memilih untuk "ngga cerita" ini ada ilmunya, ngga bisa sembarangan dan serampangan.

Rumus pertama untuk "ngga cerita" adalah menjalankan sesuatu yang minim petaka.

Saat kuliah, jual motor diam-diam untuk modal bisnis, ya salah.

Kalau bisnisnya malang, motornya hilang.

Rumus kedua dan seterusnya, ngga akan saya jelaskan.

Di tulisan ini saya mau sampaikan bahwa "ngga cerita" adalah salah satu cara supaya bisa terhindar dari mandatory orangtua.


Pada prinsipnya, orangtua menginginkan anaknya bahagia. Cuma memang, kita punya sudut pandang yang berbeda tentang bagaimana cara menjadi bahagia.

Yang terpenting adalah hati-hati, jangan sampai terjebak di dalam mandatory.

Jangan pancing mereka untuk katakan "tidak", jangan trigger mereka untuk melarang.

Sekali mereka bilang "tidak", selamanya kita akan dipersulit oleh Allah terhadap sesuatu yang mereka katakan "tidak" itu.

So, taati dan sayangi mereka adalah kewajiban, karena di dalamnya ada banyak keberkahan. Selalu beri mereka kebahagiaan, karena ridho dan restu adalah tujuan.

Apapun yang mereka perintahkan, laksanakan. Apapun yang mereka harapkan, upayakan.

Adapun ide dan rencana yang mau dijalankan, ngga semuanya harus diceritakan, yang dalam kondisi tertentu akan semakin baik kalau dirahasiakan.

Demikian.

# Sumber